TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak lebih dari 90 vaksin sedang dikembangkan tim ilmuwan di dunia untuk melawan virus corona Covid-19. Mereka tersebar di laboratorium perusahaan farmasi atau bioteknologi dan kampus universitas. Pendekatan yang digunakan untuk pengembangan seluruh vaksin itu berbeda-beda. Beberapa di antaranya bahkan belum pernah digunakan dalam produksi vaksin sebelumnya. Sebanyak tujuh kelompok misalnya, menggunakan virus corona Covid-19 sendiri, baik yang sudah tidak diaktifkan maupun sekadar dilemahkan. Banyak vaksin yang sudah ada sekarang diproduksi dengan cara ini, seperti polio dan cacar, tapi ini membutuhkan proses uji keselamatan yang luas dan panjang. Sebagian lainnya 'berkerumun' di metode atau pendekatan vaksin viral-vektor dan vaksin asam nukleat. Vaksin viral-vektor dipilih oleh 20 kelompok atau tim riset. Vaksin ini menggunakan virus seperti cacar atau adenovirus yang direkayasa genetikanya sehingga bisa memproduksi protein virus corona di dalam tubuh. Virus-virus itu dibuat lemah. Sedang vaksin asam nukleat ada di 20 kelompok peneliti yang lain. Mereka berusaha menggunakan perintah genetik (di dalam bentuk DNA ataupun RNA) untuk protein virus corona bisa membangkitkan respons kekebalan tubuh. Kebanyakan dari vaksin ini mengkodekan gen protein paku virus corona--bagian luar yang berperan mengikat reseptor di sel yang akan diinfeksi.

Vaksin berbasis DNA dan RNA ini relatif aman dan mudah dikembangkan karena hanya melibatkan material genetik, dan bukan virusnya. Tapi sejauh ini mereka belum terbukti. Belum ada vaksin yang sudah terdaftar menggunakan teknologi ini. Sebanyak lebih dari 30 vaksin lain dikembangkan para penelitinya menggunakan pendekatan berbasis protein. Ini dilatari keinginan menginjeksi protein virus corona Covid-19 langsung ke dalam tubuh. Fragmen protein yang menyerupai selubung virus itu juga bisa digunakan. Per akhir April lalu, sudah ada enam dari 90-an vaksin itu yang sudah mulai diuji disuntikkan ke manusia. Sebagian lainnya sudah di tahap uji ke hewan percobaan.