Bisnis.com, JAKARTA — Rencana relokasi pabrik farmasi asal Amerika Serikat di China ke Indonesia akan memangkas importasi bahan baku obat. Pelaku industri farmasi menyambut baik rencana relokasi pabrik farmasi asal Amerika Serikat di China yang kabarnya akan diarahkan untuk menempati Kawasan Industri Brebes, Jawa Tengah.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Farmasi (GP Farmasi) Dorojatun Sanusi mengatakan industri selalu menyambut baik kebiatan-kegiatan investasi dalam bahan baku obat (BBO) mengingat posisi kebutuhan importasi BBO yang tidak berubah di rentang 95-96 persen sampai saat ini. Tak hanya itu, adanya Instruksi Presiden Nomor 6/2016 tentang percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan untuk kemandirian dan daya saing, sampai empat tahun keberadaannya kini sudah tidak terdengar gaungnya lagi. "Padahal kebijakan itu sudah melibatkan 9 Kementerian dan tiga Lembaga, untuk itu barangkali dengan adanya rencana investasi ini bisa kembali mulai menggerakkan dan jika terjadi maka akan menjadi tonggak sejarah yang mendorong kemandirian BBO secara serius," katanya kepada Bisnis, Senin (11/5/2020).

Dorojatun mengemukakan adanya pandemi Covid-19 ini juga telah membangunkan kesadaran akan pentingnya industri farmasi sebagai bagian dari ketahanan nasional supaya tidak semua tergantung pada impor.

Sisi lain, di dalam negeri sendiri arah menuu kemandirian BBO juga sebenarnya telah dimulai. Saat ini ada tujuh industri yang tengah mengembangkan sekitar 13-15 bahan baku untuk obat nantinya. Namun, untuk penurunan angka ketergantungan BBO impor harus dilihat kembali. "Jadi dalam obat itu banyak sekali molekul yang dibutuhkan, seperti di JKN saja ada 600 molekul. Kita belum tau 13-15 bahan baku itu akan menghasilkan berapa molekul, patinya pendekatan yang dilakukan adalah teknologi tinggi dan nilai tinggi" ujarnya.

Sementara itu, lanjut Dorojatun, upaya mengundang investor asing untuk berinvestasi BBO di Tanah Air juga sudah sering dilakukan. Namun, kendala kepastian penyerapan produk obat para investor tersebut kerap menjadi hambatan. Pasalnya, saat ini kapasitas industri dalam negeri saja baru sekitar 55-60 persen. Dorojatun menambahkan pastinya Amerika Serikat saat ini dikenal sebagai raksasa farmasi dengan banyakanya pusat penelitian di sana. Adapun dari 24 perusahaan multinasional farmasi di Indonesia saat ini juga kebanyakan dari AS tetapi untuk proses manufaktur atau produksi barang jadi saja.