TEMPO.CO, Jakarta - Pengetahuan pasien soal asma banyak yang salah. Sebagian besar dari mereka mengira asma bisa sembuh sendiri. Padahal penyakit akibat alergi menahun itu sampai sekarang belum bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan agar tak kambuh. Pengetahuan sebagian pasien mengenai alur rujukan ketika mendapat serangan asma juga tak tepat. “Pasien masih mengira mereka tidak dapat langsung ke rumah sakit ketika mengalami serangan asma yang membutuhkan tata laksana cepat,” ujar Kepala Sub-Direktorat Penyakit Paru Kronis dan Gangguan Imunologi Kementerian Kesehatan, Theresia Sandra, di Taipei, Taiwan, akhir November lalu. Penelitian ini merupakan bagian dari Healthy Lung, program perusahaan farmasi multinasional, AstraZeneca. Mereka bekerja sama dengan sembilan negara di Asia, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, India, dan Vietnam. “Karena jumlah pasien asma terus meningkat, perlu diteliti bagaimana penanganannya,” kata Government Affairs Director AstraZeneca, Asia Pacific, Lucy Dance.

Asma adalah penyakit peradangan kronik saluran napas yang ditandai de-ngan adanya mengi episodik, batuk, dan rasa sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas. Penyakit ini hilang-timbul, bisa tenang tanpa gejala dan tak mengganggu aktivitas, tapi juga bisa tiba-tiba muncul de-ngan gejala ringan sampai berat. Bahkan bisa mengakibatkan kematian. Asma dipicu antara lain oleh alergen dalam ruangan, seperti tungau, debu rumah, bulu binatang, kecoak, jamur, dan asap rokok. Masalahnya, menurut Guru Besar Paru Universitas Airlangga, Mu-hammad Amin, selama ini asma belum menjadi penyakit prioritas untuk segera ditangani pemerintah. Akibatnya, komitmen pemerintah untuk melengkapi peralatan dan memberikan edukasi terbaru minim. “Misalnya tak semua puskesmas memiliki alat nebulizer, padahal itu standar untuk menangani serangan asma,” kata Amin. Senada dengan Sandra, Amin juga mengatakan pengetahuan dokter tentang perkembangan pe-nanganan asma kurang. Ditambah lagi dengan keawaman masyarakat. Sebagian pasien ogah diberi obat inhaler dan memilih obat minum. “Katanya kurang marem kalau tidak minum obat,” ujar Wakil Direktur Pendidikan dan Riset Universitas Airlangga itu. Padahal obat tenggak lebih banyak efek sampingnya ketimbang obat semprot.

 

Last Updated (Thursday, 03 January 2019 11:55)